Penjelasan tentang hipnosis dan hipnoterapi telah sangat banyak dibahas di berbagai literatur dan pelatihan. Pada intinya, terlepas dari mazhab hipnoterapi dan teknik yang digunakan, proses hipnoterapi selalu mengikuti tahapan berikut: pengawalan, induksi, pendalaman, terapi, dan pengakhiran. Uraian lengkap dapat disimak pada video Hipnoterapi Klinis: Solusi Alternatif dalam Psikoterapi di kanal YouTube Adi W Gunawan.
Tulisan ini mengulas hipnoterapi pada tataran yang berbeda, berdasar pengalaman dan temuan di ruang praktik kami, para hipnoterapis AWGI.
Manusia adalah makhluk multidimensi, terdiri dari banyak aspek saling terhubung dan mendukung satu dengan yang lain. Selain aspek fisik, kita juga punya aspek pikiran/mental, emosi, spiritual, energi, dan vibrasi. Disadari atau tidak, kita mengeluarkan dan memancarkan vibrasi, dari tubuh kita, ke lingkungan sekitar.
Vibrasi, walau tidak terlihat, dapat kita rasakan, berdampak positif maupun negatif. Vibrasi dihasilkan medan biomagnetik tubuh, keberadaannya secara ilmiah pertama kali didemonstrasikan pada tahun 1963 oleh Gerhard Baule dan Richard McFee dalam magnetocardiogram (MCG), menggunakan kumparan induksi magnetik untuk mendeteksi medan yang dihasilkan oleh jantung manusia (Baule dan McFee, 1963).
Seiring perkembangan teknologi, berhasil diciptakan piranti SQUID (Superconducting Quantum Interference Device), yang memiliki sensitivitas luar biasa dalam mengukur medan biomagnetik. Dan ditemukan bahwa sinyal EKG dan MCG adalah serupa.(Nakaya, 1984).
Medan magnet yang dihasilkan jantung terlibat dalam komunikasi energi, juga disebut sebagai komunikasi kardioelektromagnetik. Jantung adalah sumber energi elektromagnetik paling kuat dalam tubuh manusia, menghasilkan medan elektromagnetik terbesar di antara semua organ tubuh.
Medan listrik jantung memiliki amplitudo sekitar 60 kali lebih besar daripada aktivitas listrik yang dihasilkan otak. Medan ini, yang diukur dalam bentuk elektrokardiogram (EKG), dapat dideteksi di mana saja pada permukaan tubuh.
Selain itu, kekuatan medan magnet yang dihasilkan jantung lebih dari 100 kali lebih besar daripada medan yang dihasilkan oleh otak, dan dapat dideteksi hingga jarak 2 meter dari tubuh, ke segala arah, dengan menggunakan magnetometer berbasis SQUID.
Rentang jangkauan medan magnet jantung sebenarnya sangat luas, melebihi 2 meter. Hasil pengukuran menunjukkan rentang sebesar 2 meter semata karena keterbatasan piranti yang digunakan.
Medan magnetik jantung dipengaruhi oleh pikiran dan peraaan kita. Medan ini secara energi memengaruhi orang di sekitar kita, baik disadari atau tidak.
Saat dua individu bertemu, dalam konteks terapi, terapis dan klien bertemu di ruang praktik, terjadi komunikasi energi melalui irisan medan energi di antara keduanya, masing-masing memancarkan vibrasi dan saling memengaruhi satu terhadap yang lain.
Dalam terapi, untuk dapat mencapai hasil terapi optimal, terapis selain harus memiliki kompetensi terapeutik tinggi, percaya diri, memiliki niat tulus membantu klien, ia juga harus menyiapkan diri di aspek mental dan emosi sebelum jumpa klien.
Terapi bukan sekadar klien jumpa terapis, terapis bertanya apa masalah klien, kemudian terapis membaca skrip atau menggunakan teknik mengatasi masalah klien. Terapi yang benar bersifat menyeluruh, holistik, menggunakan pendekatan dan pemahaman multidimensi.
Persiapan terapis dilakukan minimal sehari sebelum jumpa klien. Selain cermat memelajari Intake Form klien, terapis juga wajib cukup istirahat. Terapis sangat disarankan rutin relaksasi dan meditasi cinta kasih untuk menjaga ketenangan pikiran, suasana hati, meningkatkan kualitas energi dan vibrasi positifnya.
Terapis profesional menyadari bahwa kondisi mental dan emosinya termanifestasi dalam bentuk vibrasi yang secara langsung memengaruhi klien, baik secara positif maupun negatif.
Vibrasi positif yang terpancar dari terapis membuat klien merasa tenang, nyaman, aman, dan teduh. Banyak klien mengalami perubahan nyata hanya dalam waktu beberapa saat setelah bertemu terapis, sebelum terapis melakukan intervensi terapeutik secara formal. Klien merasa lega dan nyaman. Setelahnya klien minta sesi terapi tidak perlu dilanjutkan.
Sebaliknya, bila terapis memancarkan vibrasi negatif, bisa karena terapisnya sendiri sedang ada masalah, kondisi pikiran dan suasana hatinya sedang tidak nyaman, fisiknya lelah karena kurang istirahat, atau sedang kurang sehat, klien bisa merasakannya dan ini sangat menghambat proses terapi.
Bila terapis memancarkan vibrasi positif, proses terapi menjadi mudah, mulai dari awal hingga akhir, dan hasil terapi yang dicapai sangat optimal. Banyak kasus berat dapat diselesaikan hanya dalam satu atau dua sesi terapi.
Berdasarkan pengalaman dan temuan kami, ketika energi terapis sedang rendah atau lemah, misalnya karena kurang istirahat, kondisi kesehatan yang tidak optimal, atau adanya masalah pribadi yang menyebabkan suasana hati tidak kondusif, dan terapis memaksakan diri untuk melakukan terapi, terutama jika masalah klien cukup berat dan mengandung muatan emosi negatif yang intens, hasil terapi tidak akan optimal, klien pulang dengan masalah yang masih belum teratasi, dan terapis bisa jatuh sakit.
Untuk itu, di kelas hipnoterapi SECH, sangat ditekankan pentingnya persiapan fisik, mental, emosi, dan energi terapis. Itu sebabnya hipnoterapis AWGI rata-rata hanya menangani satu hingga maksimal dua klien dalam satu hari. Terapi adalah proses yang sangat intens, baik pada klien dan juga terapis.
Dipublikasikan di https://www.old.adiwgunawan.com/articles/vibrational-hypnotherapy pada tanggal 18 Mei 2024 15:38